Sebuah cerpen fiksi yang kutulis dengan sedikit tidak berperasaan. Mungkin terlihat tidak bersastra.
"Dalam Diam"
Memandang wajahnya, bercanda dengannya, mendengarkan curahan hatinya, itulah yang selalu aku lakukan dengannya setiap hari. Sungguh suatu kebahagiaan tersendiri mempunyai sahabat yang manis sepertinya. Lira Nur Indah, nama itulah yang selalu terpampang di baju seragam bagian kanan atas miliknya. Nama yang cantik. Aku selalu suka memanggilnya berulang-ulang walaupun dia telah membalas panggilanku. Namun, kebahagiaan kami tak berjalan lama. Setelah lulus dari sekolah menengah pertama, dia melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di luar kota mengikuti ayahnya. Tepatnya bukan luar kota, tetapi luar pulau. Sedangkan aku harus tetap tinggal di kota kelahiranku, Bandung.
Ada sesuatu yang hilang saat hari-hariku tak diwarnai dengan tawanya. Rasanya hampa. Aku melakukan aktivitas tanpa kehadiran Lira. Disini, aku selalu merindukan dirinya. Setiap malam aku memanjatkan doa kepada Tuhan agar sahabat cantikku itu mendapatkan sahabat yang lebih baik dariku. Aku juga tak pernah bosan menunggunya.
Sebenarnya sudah lama aku memendam rasa untuk dirinya. Tak ada satupun yang tahu tentang perasaanku ini kecuali aku dan Tuhan Yang Maha Esa. Aku sengaja menyimpan rasa ini rapat-rapat. Aku hanya mencintai Lira dalam diam. Aku tak ingin persahabatan kami hancur hanya karena ada rasa cinta diantara kami.
“Dika, besok aku harus pergi.”
Aku masih ingat saat dia pamit kepadaku. Waktu itu, raut wajahnya tak secerah biasanya. Aku bingung saat tiba-tiba air matanya jatuh. Rasa tak tega melepas Lira menyelimuti diriku. Sungguh hatiku ikut menangis melihat dia. Tapi, sebagai seorang laki-laki yang mulai menginjak dewasa, aku harus tegar.
“Jaga dirimu baik – baik ya selama tak ada aku.”
Hanya kalimat itu yang bisa aku keluarkan. Aku menepuk-nepuk punggungnya bermaksud untuk memberikan ketegaran. Lira menghapus air matanya dan kemudian tersenyum padaku.
“Dika, sebulan sekali aku akan pulang kesini. Jadi, kita dapat bertemu,” ucapnya sambil menampakkan senyum terpaksa.
“Tidak usah. Aku seharusnya yang menengokmu. Bukan dirimu. Lagi pula Bandung – Palembang itu jauh, Ra.”
Dia tersenyum lagi. “Sahabat yang baik. Memang seharusnya iya.”
Dasar Lira ! Ia ingin membuat sebuah lelucon untuk berusaha tegar. Padahal aku tahu, pasti dia sangat rapuh. Suasana diantara kami tiba-tiba hening. Segera aku memecahkan keheningan diantara kami.
“Ra …”
“Ka …”
Tak kusangka dia membuka mulutnya untuk memanggil namaku bersamaan denganku yang memanggil namanya. Sebagai seorang laki-laki, aku mempersilahkan dia untuk berbicara dahulu.
“Emm… Ka, sebelum aku pergi besok, bolehkah aku mengatakan sesuatu ?”
“Silahkan !” jawabku singkat.
“Sebenarnya … aku … sebenarnya aku … aku menyukaimu, Dika. Sudah lama rasa ini terpendam.”
Aku seperti tersengat listrik mendengar ungkapan yang baru saja keluar dari mulutnya. Tubuhku seketika kaku. Ada rasa senang yang menghampiriku. Tapi, disisi lain ada rasa kecewa. Seharusnya hanya rasa senang yang ada. Dengan Lira mengungkapkan pearasaannya itu berarti cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Namun disisi lain diriku, persahabatan kami lebih penting. Persahabatan akan selamanya hidup. Sedangkan jika kami saling menyukai lebih dari sahabat, itu hanya akan berjalan sementara. Ya ! Itu memang benar.
“Mungkin kamu kaget mendengarnya. Pati kamu menganggap bahwa ini hanya cinta monyet. Tapi, ini kenyataannya, Ka. Rasa itu tidak bisa hilang. Padahal sudah kupendam dalam-dalam. Aku sungguh menyukaimu, menyayangimu lebih dari seorang sahabatku,” jelasnya.
Aku bingung harus menjawab apa. Lira mengungkapkan semua pada waktu yang tidak tepat. Sejujurnya aku juga menyayangimu, Lira. Sama sepertimu. Lebih dari seorang sahabatku.
“Ra, maafkan aku. Maaf, bukannya aku …”
“Aku mengerti, Ka. Kamu sulit menerima ini. Pasti kamu lebih memilih persahabatan kita ‘kan ?” Lira memotong ucapanku. Aku terdiam.
“Tak apalah. Jika mau kamu mempertahankan persahabatan kita. Oke. Memang seharusnya rasa ini tak pernah tumbuh. Aku akan berusaha untuk menghapus rasa ini,” ucapnya dengan nada kecewa. Benar apa yang dikatakan Lira. Tak seharusnya rasa ini tumbuh diantara kami.
Lagi-lagi aku terdiam. Aku memang sengaja diam. Aku tak ingin Lira tahu bahwa aku juga menyayanginya. Cukup bersahabat saja. Aku takut jika kami memiliki hubungan lebih dari seorang sahabat, Lira tiba-tiba menghilang setelah kita mengakhiri hubungan itu.
“Dika !”
Aku tergagap saat Lira memanggil namaku. Lira menatapku lekat. Tatapan Lira menunjukkan sebuah permohonan. Aku tahu permohonan apa itu. Sebuah permohonan yang menuntutku untuk membalas perasaannya. Sekarang aku sedang dilema. Antara persahabatan dan membalas rasa untuk Lira. Mana yang harus kupilih. Aku ingin membalas rasa itu namun aku juga tidak ingin persahabatan ini terputus begitu saja. Oh, Tuhan !
“Lira … sebenarnya … aku …” sekali lagi aku bingung harus menjawab apa. Tiba-tiba tangan telunjuk Lira menempel di depan bibirku. Ia menyuruhku untuk diam.
“Jangan bilang sesuatu jika itu menyakitkan buatku, Ka. Aku tahu kamu mau menjawab apa. Persahabatan kita sudah lama. Maaf, aku merusaknya hanya karena rasa ini tumbuh. Dika, selamat tinggal.”
Itu ucapan Lira terakhir kalinya untukku. Aku tak bisa menghentikan langkah Lira yang menjauhi diriku. Kakiku serasa menempel di tanah. Mulutku terasa terbungkam.
Ooh, tidak. Lira pergi dengan persepsi yang salah. “Tidak Lira, tidak. Aku tadi ingin memberi tahumu bahwa aku Dika Pratama sangatlah menyukai, menyayangi, dan mencintaimu, Lira Nur Indah.”
Tahun ini, tahun kelima aku tanpa kehadiran Lira disampingku. Selama ini aku tak pernah memberanikan diri untuk menemuinya. Lira pun tidak pernah pulang ke Bandung. Mungkin jika semua orang tahu tentang sikapku menanggapi Lira dulu, aku sudah mendapatkan olok-olok bahwa aku adalah laki-laki pengecut. Namun, itu tidak mungkin bagiku. Aku hanya mencintai Lira dalam diam sampai sekarang ini. Tak pernah rasa itu berkurang, malah semakin hari rasa itu semakin bertambah. Aku tak tahu bagaimana cara menghentikan rasa ini.
Hari ini aku menunggu Lira di taman kota yang biasa kami kunjungi sepulang sekolah dulu. Mustahil jika Lira akan datang. Tapi, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Aku tetap menunggu, menunggu, dan menunggu. Sudah berjam – jam aku duduk di bangku taman yang tak terlalu panjang ini. Namun, tidak ada tanda-tanda kehadiran Lira. Aku tetap menunggunya tanpa bosan. Mataku terus mencari sosok yang kurindukan di antara orang-orang yang sedang menikmati suasana sore.
Aku mendesah. Sepertinya aktivitas menungguku hari ini juga tidak berbuah. Dengan rasa berat hati aku berdiri dan melangkah meninggalkan bangku taman ini. Sebelum langkahku genap sepuluh, aku mendengar suara seseorang yang sedang bernyanyi. Suara itu begitu familiar bagiku. Segera aku menoleh ke bangku tadi.
“Lira !” seruku.
Aku benar – benar tak salah melihat. Ini juga tidak mimpi. Ini nyata. Aku yakin itu sahabatku sekaligus orang yang kucintai yang selama ini aku tunggu. Rasanya bahagia dia kembali. Selama lima tahun ini, dia berubah menjadi sosok yang dewasa dan cantik. Aku pun berbalik arah bermaksud untuk menghampiri Lira yang sedang duduk manis di bangku yang tadi aku tempati.
“Hai sayang …”
Niatku untuk menghampiri Lira hilang disaat aku mendengar suara seorang laki – laki. Aku seketika terpatung melihat pemandangan di depanku. Seorang laki – laki berkaca mata menghampiri dan langsung duduk disamping Lira. Siapa laki – laki itu ? Pacarnya kah ?
“Sudah lama menunggu, sayang ?” tanya seorang laki – laki yang tak kukenal itu.
“Tidak. Baru saja aku duduk,” jawab Lira dengan sumringah.
Oh, Tuhan. Melihat itu semua membuat hatiku hancur. Aku sudah yakin siapa laki – laki yang bersama Lira itu. Sudah, aku tak ingin menyebutnya lagi. Ini semua salahku. Aku menyesal sekarang. Kenapa tak dari dulu aku jujur kepadanya. Kenapa ?
Aku tak punya pilihan lain sekarang. Aku harus segera meninggalkan tempat ini. Kakiku pun membawa tubuh ini menjauhi mereka. Tak tahu harus kemana aku sekarang berjalan. Pulangkah, pergi kerumah teman, atau … ahhhh. Fikiranku kacau. Hatiku telah hancur berkeping – keping. Seperti ribuan pisau tajam memotong-motong hatiku. Langkahku gontai.
Diam, itulah yang kulakukan. Hanya diam yang kulakukan di dalam hidupku. Aku memang laki – laki pengecut yang hanya bisa diam. Sangat pengecut. Dasar bodoh ! Sekarang perempuan yang aku cintai dan yang selama ini aku tunggu, dia telah menjadi milik orang lain. Apalah daya aku sekarang. Hanya diam, diam, dan diam.
S.E.L.E.S.A.I

Komentar
Posting Komentar