Langsung ke konten utama

Kenangan!




Buk...

Kotak persegi yang lumayan besar terlepas begitu saja dari tanganku hingga membuat isinya berantakan di lantai. Tak langsung tanganku bergerak untuk memungutinya. Aku malah terdiam melihat begitu banyak isi yang terdapat di dalam kotak itu. ‘Huft, begitu banyakkah kenangan yang kusimpan seperti ini?’ kataku dalam hati.

Kenangan. Ya! Kotak itu berisi kenangan yang tak pernah kubuka selama kurang lebih delapan tahun. Selama itu aku hanya mengisi kotak itu tanpa pernah membuka apalagi melihat isinya. Aku tak tahu jika isinya sudah sebanyak cucian yang tak pernah di cuci selama seminggu. Banyak sekali.
Baca juga : Sekedar Surat

Sedikit demi sedikit tanganku bergerak untuk mengambil satu dari sekian banyak kenangan itu. Ada sebuah foto tentang kamu, dia, kalian, mereka dan juga aku. Foto itu sudah terlihat jadul. Kapan foto ini diambil? Kubalikkan foto yang sudah ada di genggaman tangan. Ada coretan kecil yang memberitahu kapan foto itu diambil. Ternyata sudah terlalu lama.

Tak puas dengan satu kenangan, akhirnya aku berjongkok tepat di dekat kotak itu. Kepingan-kepingan puzzle tentang semua kenangan mulai tersusun di dalam otakku. Aku ingat saat tertawa bersama dengan kamu, dia, kalian dan mereka. Aku juga ingat disaat kita semua menangis hanya karena hal sepele. Hmm... apakah aku harus menyebutkan satu per satu nama-namanya? Ah... Jangan! Mungkin akan memenuhi lembaran ini dengan hanya menyebutkan namanya saja. Membuang-buang waktu. Lebih baik nama kamu, dia, kalian, dan mereka tersimpan rapi di rak otakku. Semoga tidak akan pernah usang.

Ada bunga mawar putih yang masih hidup. Kenangan apa ini? Oh, aku ingat. Ini kado dari kalian dua tahun lalu untukku. Kado terunik yang pernah aku dapatkan. Mawar putih beserta tanah dan juga potnya. Seharusnya ini ada pasangannya. Dimana pasangan mawar putih ini? Aku mencari di antara kenangan yang mulai berserakan. Aha, ketemu. Sebuah gambar karikatur yang katanya itu karikatur diriku. Kenangan ini adalah salah satu di antara kenangan yang belum terlupakan olehku.

Dalam beberapa kenangan ini banyak yang terjadi di tahun yang berbeda. Tahun terus bertambah sejalan dengan bertambahnya model kenangan yang kusimpan. Maaf, aku tak bisa menuliskan semuanya. Terlalu panjang, aku takut kertas ini tak cukup.

Terakhir, kenangan yang baru saja aku lakukan beberapa bulan lalu. Persis seperti tanggal yang tercantum di kenangan satu ini. Di sana hadir kamu, dia, kalian, dan mereka yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Semuanya baru di kehidupanku.



Ternyata sudah banyak kenangan yang sudah kusimpan. Tak terasa kotak ini sudah hampir penuh. Sepertinya sebentar lagi akan tumpah.

Akan aku apa kan kenangan-kenangan ini? Dibuangkah? Jangan! Tak seharusnya aku membuang kenangan ini. Lalu? Aha, akan tetap kusimpan baik-baik di dalam kotak. Sampai kapan pun. Jika kotak ini sudah tidak mampu untuk menampungnya, akan kucarikan kotak yang lebih besar lagi. Karena aku tahu, semakin bertambahnya tahun, kenangan yang akan aku miliki terus bertambah, bertambah, dan bertambah. Aku tak akan lelah mengisinya dengan kenangan-kenangan yang baru bersama orang baru. Semua kegiatan yang kita lakukan akan berujung pada yang namanya kenangan.



Satu lagi, teruntuk kamu, dia, kalian, dan juga mereka yang hadir akhir-akhir ini, selamat datang di kehidupanku. Selamat bergabung di dalam kotak yang berisikan tentang kenangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi 11 Jejak Cinta

            Tanggal 22 Oktober 2015 di jam 08.50 kuketik sebuah resensi dari sebuah kumpulan cerpen yang di terbitkan oleh Gramedia. Dengan teman yang bisa menjadi apapun plus teman sebangku semasa SMAku membuat resensi ini semakin lengkap. Mungkin takkan mencapai kata sempurna karena kata sempurna hanya milik-Nya.             Mungkin "11 Jejak Cinta" ini sudah lawas dan sudah tidak ada yang berminat, tapi aku hanya ingn berbagi kepada pembaca tentang isi kumpulan cerpen ini. Judul                : 11 Jejak Cinta (Kumcer) Pengarang        : Charon dkk Penerbit            : PT. Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit     : 27 April 2015 Tebal           ...
Sebuah cerpen fiksi yang kutulis dengan sedikit tidak berperasaan. Mungkin terlihat tidak bersastra.  "Dalam Diam" Memandang wajahnya, bercanda dengannya, mendengarkan curahan hatinya, itulah yang selalu aku lakukan dengannya setiap hari. Sungguh suatu kebahagiaan tersendiri mempunyai sahabat yang manis sepertinya. Lira Nur Indah, nama itulah yang selalu terpampang di baju seragam bagian kanan atas miliknya. Nama yang cantik. Aku selalu suka memanggilnya berulang-ulang walaupun dia telah membalas panggilanku. Namun, kebahagiaan kami tak berjalan lama. Setelah lulus dari sekolah menengah pertama, dia melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di luar kota mengikuti ayahnya. Tepatnya bukan luar kota, tetapi luar pulau. Sedangkan aku harus tetap tinggal di kota kelahiranku, Bandung. Ada sesuatu yang hilang saat hari-hariku tak diwarnai dengan tawanya. Rasanya hampa. Aku melakukan aktivitas tanpa kehadiran Lira. Disini, aku selalu merindukan dirinya. Setiap malam a...