Langsung ke konten utama

Resensi 11 Jejak Cinta


            Tanggal 22 Oktober 2015 di jam 08.50 kuketik sebuah resensi dari sebuah kumpulan cerpen yang di terbitkan oleh Gramedia. Dengan teman yang bisa menjadi apapun plus teman sebangku semasa SMAku membuat resensi ini semakin lengkap. Mungkin takkan mencapai kata sempurna karena kata sempurna hanya milik-Nya.
            Mungkin "11 Jejak Cinta" ini sudah lawas dan sudah tidak ada yang berminat, tapi aku hanya ingn berbagi kepada pembaca tentang isi kumpulan cerpen ini.


Judul               : 11 Jejak Cinta (Kumcer)
Pengarang       : Charon dkk
Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit    : 27 April 2015
Tebal               : 200 halaman ; 20 cm

            Saat pandangan pertama melihat kumcer ini mungkin kebanyakan calon pembaca akan terkecoh dengan cerpen – cerpen yang disajikan oleh kumcer ini, sebab ditilik dari judulnya saja calon pembaca pasti sudah memiliki prakiraan bahwa jalan cerita dalam kumcer pasti sarat akan cinta remaja. Namun setelah menyelami kumcer ini pasti pembaca akan merasa tertipu.

Cerpen – cerpen ini ditulis oleh tangan profesional yang lihai dalam ‘menarik ulur’ hati pembaca melalui setiap kata yang mereka rangkai. Sesuai dengan judulnya, dalam kumcer ini terdapat 11 cerpen. Tak tanggung – tanggung Gramedia menggandeng 11 penulis teenlit ternama untuk  mencuri hati beserta perhatian para penggemar teenlit.

Oke, mari kita kupas satu – persatu cerpen dalam kumcer ini. Yang pertama cerpen karangan Charon dengan judul Si Pengacau Kecil. Siapa yang tidak mengenal Charon ? Kalau tidak pernah mendengar nama Charon berarti bukan maniak teenlit. 3600 Detik dan 7 Hari Menembus Waktu merupakan novel – novel yang telah ditulis oleh Charon. Dan cerpen Charon kali ini cukup menyedot emosi pembaca karena keahliannya dalam memainkan jalan cerita. Cerpen ini mengisahkan tentang Rena yang begitu sebal akan tingkah adik kecilnya, Ryan. Namun, setelah melalui banyak peristiwa aneh akhirnya Rena sadar bahwa dirinya tak berhak menaruh rasa benci kepada adik kandungnya itu. Cerita itu begitu sederhana namun sangat mengena maknanya.

Kedua, ada cerpen karangan Clio Freya berjudul Berteman Dengan Cinta, tema yang disajikan tergolong mainstream, tentang seorang cowok bernama Raka yang menyimpan rasa terhadap Prita –mantan pacar sahabatnya yang telah meninggal–

Selanjutnya ada cerpen berjudul Langit di Ujung Jendela karangan Dyan Nuranindya. Menyajikan alur flashback yang lumayan mengesankan.

Keempat, bertengger nama Ken Terate dengan cerpennya Dua Hati Menghadapi Dunia. Tidak ada yang istimewa dari tulisan Ken Terate kali ini. Memilih tema realita dalam cinta remaja sepertinya malah membuat cerpen ini terkesan membosankan.

Lalu ada Kecelakaan (Lexie Xu). Bertema thriller fantasi. Cerpen yang sangat menakjubkan. Lewat pendeskripsiannya pada setiap peristiwa yang menimpa si tokoh, Lexie Xu mampu membuat pembaca merinding. Mungkin karena Lexie Xu merupakan penulis cerita thriller tulen, makanya cerpennya bisa ngena.

Ada nama Luna Torashyngu dengan cerpennya First Girl yang bercerita mengenai Gayatri si anak presiden. Gaya bahasa ngepop, alur unik, tema bagus, tapi akhir menggantung.

Ketujuh, Milo oleh Mia Arsjad si penulis novel Imajinatta. Satu kata untuk cerpen Mia. Keren. Mia mampu menciptakan situasi dimana seolah tokoh Milo memiliki perwatakan kompleks.

Kedelapan, Duniaku Kiamat (Pricillia Anastasia Warokka) mengisahkan tentang sepasang kekasih yang memutuskan hubungan mereka demi pencapaian prestasi keduanya.

Bekal Istimewa untuk Pangeran (Primadonna Angela) bercerita tentang cinta bertepuk sebelah tangan seorang gadis biasa terhadap cowok populer disekolahnya. Meski begitu, cerita ini menyuguhkan akhir yang membahagiakan.

Untukmu Sahabat (Shandy Tan) mengisahkan mengenai Kikan dan Kiki, dua sahabat yang telah lama tak bersua karena kesibukan masing-masing. Cerpen ini berakhir dengan kesedihan yang mungkin mampu menghujam hati setiap pembacanya.

Dan yang terakhir adalah Nastya oleh Windhy Puspitadewi, menggunakan setting masa lalu, menceritakan mengenai cinta dan penjelajah waktu. Windhy pantas mendapat acungan dua jempol sebab mampu membumbui cerita cinta dengan kisah sejarah.

Secara keseluruhan tentu saja kumcer ini hampir menyentuh kata sempurna. Cover terlihat menyenangkan dan menarik, tema berwarna, diksi sudah pasti tak ada masalah. Namun, sangat disayangkan kumcer ini seolah sengaja dijadikan ajang promosi oleh Gramedia untuk beberapa penulis. Seperti cerpen First Girl karangan Luna Torashyngu merupakan cuplikan novel terbaru Luna. Juga Nastya merupakan salah satu babagan dari novel Incognito karangan Windhy Puspitadewi yang diterbitkan pada tahun 2009.

Namun, di samping itu kumcer ini wajib dibaca oleh para kawula muda. Agar mengerti filosofi tentang cinta yang sesungguhnya dan tidak melampiaskan pada hal – hal negatif.




Yuhuuu ~ ~ ~ Cukup sekian yang dapat saya tulis. Terima kasih sekali untuk teman yang menjadi apapun untukku :* dialah Yuniar Putri Pratiwi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah cerpen fiksi yang kutulis dengan sedikit tidak berperasaan. Mungkin terlihat tidak bersastra.  "Dalam Diam" Memandang wajahnya, bercanda dengannya, mendengarkan curahan hatinya, itulah yang selalu aku lakukan dengannya setiap hari. Sungguh suatu kebahagiaan tersendiri mempunyai sahabat yang manis sepertinya. Lira Nur Indah, nama itulah yang selalu terpampang di baju seragam bagian kanan atas miliknya. Nama yang cantik. Aku selalu suka memanggilnya berulang-ulang walaupun dia telah membalas panggilanku. Namun, kebahagiaan kami tak berjalan lama. Setelah lulus dari sekolah menengah pertama, dia melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di luar kota mengikuti ayahnya. Tepatnya bukan luar kota, tetapi luar pulau. Sedangkan aku harus tetap tinggal di kota kelahiranku, Bandung. Ada sesuatu yang hilang saat hari-hariku tak diwarnai dengan tawanya. Rasanya hampa. Aku melakukan aktivitas tanpa kehadiran Lira. Disini, aku selalu merindukan dirinya. Setiap malam a...

Kenangan!

Buk... Kotak persegi yang lumayan besar terlepas begitu saja dari tanganku hingga membuat isinya berantakan di lantai. Tak langsung tanganku bergerak untuk memungutinya. Aku malah terdiam melihat begitu banyak isi yang terdapat di dalam kotak itu. ‘Huft, begitu banyakkah kenangan yang kusimpan seperti ini?’ kataku dalam hati. Kenangan. Ya! Kotak itu berisi kenangan yang tak pernah kubuka selama kurang lebih delapan tahun. Selama itu aku hanya mengisi kotak itu tanpa pernah membuka apalagi melihat isinya. Aku tak tahu jika isinya sudah sebanyak cucian yang tak pernah di cuci selama seminggu. Banyak sekali. Baca juga : Sekedar Surat Sedikit demi sedikit tanganku bergerak untuk mengambil satu dari sekian banyak kenangan itu. Ada sebuah foto tentang kamu, dia, kalian, mereka dan juga aku. Foto itu sudah terlihat jadul. Kapan foto ini diambil? Kubalikkan foto yang sudah ada di genggaman tangan. Ada coretan kecil yang memberitahu kapan foto itu diambil. Ternyata sudah terlal...