Surat?
Mana surat darinya?
Apakah
Pak Pos lupa mengantarkan surat darinya untukku? Atau memang dia tak pernah
membalasnya?
Tak
apalah. Tak ada surat darinya. Yang pasti setiap hari suratku tak akan pernah
absen untuknya.
Hai
kamu. Ya, kamu yang (entah) ada disana atau disini! Kamu yang selalu tak
kuketahui namamu. Tak aku ketahui wajahmu, asalmu dan juga bagaimana sifatmu.
Surat kali ini akan terkirim lagi untukmu.
Selamat
pagi, siang, malam untuk kamu. Aku tidak tahu kapan kamu akan membacanya.
Bagaimana
kabarmu? Aku disini selalu baik-baik saja. Oh ya, surat ini aku tulis di malam
hari dalam keadaan udara dingin dan diguyur hujan. Apakah di tempatmu yang (tak)
aku ketahui juga hujan? Semoga saja tidak. Lalu, bagaimana hatimu? Baik? Semoga
saja selalu baik. Jangan lupa jaga dia. Jaga dia untukku.
Malam
ini aku akan cerita sedikit untukmu. Bercerita tentang kabar (hati) ku.
Bagaimana (hati) ku? Dia dalam keadaan sehat untuk hari ini. Oh ya, dia baru
sembuh kemarin. Karena kurang lebih seminggu yang lalu dia mendapat hantaman
keras hingga membuat dia terluka. Luka itu membekas berwarna biru seperti memar.
Dia sempat merintih kesakitan dalam beberapa hari. Menangis tanpa henti hingga
aku benar-benar bingung.
Maaf
karena aku tak menjaganya dengan siaga. Aku sudah berjanji untuk selalu
menjaganya untukmu, tapi waktu itu aku benar-benar lelah dan ingin
beristirahat. Dan inilah hasil dari sebuah kecerobohanku. Dia mempunyai luka
yang serius. Jujur, aku sungguh menyesal.
Sabar,
jangan marah dulu padaku. Pendam amarahmu. Aku belum menyelesaikan ceritaku
ini.
Dia
sudah sembuh hari ini. Dia kembali tersenyum dan tertawa seperti sebelum dia
mendapatkan luka itu. Tapi, aku takut dia mengalami trauma yang cukup dalam.
Sampai saat ini belum ada tanda-tanda bahwa dia trauma pada memar yang sekarang
masih terlihat biru. Syukur jika trauma itu tidak akan menghampiri dirinya.
Iya,
benar sekali. Lukanya masih terlihat biru. Tapi tidak se-biru saat
pertama kali dia mendapatkan hantaman. Katanya dia sudah tak merasakan sakit
lagi. Ini, dia juga menitipkan salamnya padaku untuk kamu. Katanya jangan
khawatir. Dia akan baik-baik saja.
Maaf
untuk kamu. Maaf tak menjaganya dengan baik hingga kejadian ini menimpa dia.
Aku akan belajar dari ini. Akan akan menjaganya dengan baik karena aku tahu
kamu disana juga menjaga (hati) kamu dengan sangat hati-hati. Iya iya aku tak
akan lupa untuk selalu berjaga.
Sepertinya
sampai disini aku menulis surat untukmu. Kamu tidak akan bosan untuk membaca surat
yang setiap hari aku kirim ‘kan? Kuharap jawabanmu selalu tidak. Dan satu lagi,
aku selalu merindukanmu dimanapun kamu berada. Entah apa yang selalu aku
rindukan. Mengetahui nama dan juga wajahmu saja aku luput.
Sudah.
Ini benar-benar sudah malam. Aku harus menjaga (hati) ku lagi karena aku sudah
berjanji padamu.
Iya,
aku ingat. Aku tak akan ceroboh untuk kedua kalinya.
Surat
untuk kamu selesai tepat sebelum jarum jam di kamarku menunjukkan pukul tengah
malam.
Untuk
Pak Pos yang tak pernah bosan mengantarkan suratku padanya aku ucapkan terima
kasih. Jangan lupa, surat ini harus seperti yang lainnya.


Komentar
Posting Komentar